Back to Islam

Adab Penuntut Ilmu

12 November 2017 ican_course No Comments

Segala puji bagi Allah, Dzat yang Maha Agung, sehingga tidak memerlukan sekutu dan anak. Yang Maha Mulia, sehingga tidak membutuhkan apapun.

Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Baginda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, beserta keluarga, dan sahabat-sahabatnya.

Esensi Belajar Bahasa Inggris dalam Islam

Sebelumnya Perlu kita ketahui bersama bahwa Ilmu dunia (dalam hal ini bhs inggris) adalah hal yang mubah, ia merupakan wasilah/sarana.

Jika dalam mempelajarinya kita niatkan untuk kebaikan, maka hal mubah tersebut akan mendapatkan pahala. Sebagaimana kaidah fiqhiyyah:

الوسائل لها أحكام المقاصد

“Hukum wasilah/sarana sesuai dengan hukum tujuan/niatnya.”

Bahasa Inggris termasuk hal yang bermanfaat. Hendaknya kaum muslimin yang ingin memanfaatkannya bersemangat mempelajari bahasa Inggris. Ini adalah perintah agama agar kita bersemangat dalam melakukan hal-hal yang bermanfaat baik untuk dunia maupun akhirat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Bersungguh-sungguhlah (bersemangatlah) untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah.” (HR. Muslim)

Hal ini pernah dicontohkan oleh Sahabat Nabi yg bernama Zaid bin Tsabit. Ia mempelajari bahasa Yahudi (atas perintah Nabi Muhammad), dan mampu menguasainya dlm waktu kurang dari setengah bulan. Ia manfaatkan bahasa asing tsb utk memudahkan berdakwah.

Teman2 sekalian, mencari ilmu sungguh merupakan salah satu upaya taqarrub (pendekatan diri) yg paling utama bagi hamba kpd Allah. Allah telah memerintahkan hamba-hamba-Nya agar mempunyai ilmu dan belajar, berfikir dan merenung. Di sisi lain, Dia mewanti wantikan agar para hamba menjauhi kebodohan serta hawa nafsu. Dia juga menerangkan bahwa ilmu yg bermanfaat bagi pengembannya pada hari kiamat adl ilmu yg murni diperuntukkan bagi Allah, untuk mencari ridla-Nya, dengan berpegang adab islam dalam mencarinya, dan berperangai dgn akhlak pemimpin manusia, yakni Rasulullah, yg tidak lain adalah berakhlaq Al Qur’an.

“Ilmu tanpa adab tidak akan bermanfaat.”

Ilmu yg tidak disertai jiwa yg disucikan maka kelak akan menghujat sang pengembannya pada hari kiamat nanti.

Etika Penuntut Ilmu

Maka dari itu, kami berharap, agar teman-teman disini tidak hanya belajar tentang bahasa inggris saja, tetapi juga belajar tentang keindahan islam, serta dapat menerapkannya dlm kehidupan sehari-hari.

Diantara etika pelajar yg dimaksud adalah:

1. Tawadhu’

Apapun profesi kita, jika status kita di tempat tersebut menjadi peserta atau murid, maka yang menjadi pemateri kedudukannya menjadi lebih tinggi dari kita. Meskipun sang pemateri secara jabatan berada jauh di bawah kita.

Hal ini pernah dicontohkan oleh Atha’ bin Abi Rabah. Beliau bercerita,

“Sesungguhnya seorang pemuda menyampaikan sebuah hadits lalu aku mendengarkannya seakan-akan aku belum mengetahuinya. Padahal aku benar-benar telah mendengar hadits itu sebelum dia dilahirkan. (Lihat Raudhatul ‘Uqala\ hal. 72, Tadzkiratus Sami’, hal. 105)

Bisa dibayangkan, saking tawadhu’nya, beliau benar-benar menghormati sang pemberi ilmu (pemuda), padahal beliau sebenarnya sudah paham hadits yg disampaikan jauh-jauh hari bahkan sebelum sang pemuda lahir.

2. Berlaku sopan terhadap guru

Hendaknya guru menjadi tempat penghormatan kita. Ambillah semua adab yang baik pada saat kita belajar bersamanya, berbicara kepadanya, sopan dalam bertanya, menyimak dengan seksama, tidak mendahului beliau dengan ucapan, menjauhi banyak bertanya (hal-hal yg tidak penting) apalagi disaksikan oleh banyak orang, dan jangan memanggilnya dengan namanya secara langsung atau dengan nama julukannya, akan tetapi panggillah dengan panggilan yang baik, Misal
“Sir/Miss/Ma’am”.

Jika nampak ada kesalahan dari Guru, maka janganlah menjatuhkan beliau dalam pandangan kita, karena hal itu akan menjadi penyebab terhalangnya diri kita dari ilmunya.

Bukankah tidak ada manusia yg selamat dari kesalahan ?

Karenanya jika Guru ada kesalahan, hendaknya diingatkan dgn cara yg santun. Diantaranya dilakukan scara diam-diam (japri misalnya). Kecuali kalau ada maslahat, boleh dilakukan dilakukan terang-terangan. Tapi tetap dilakukan dgn cara yg santun.

3. Bersabar

Wahai saudaraku yang mulia, sungguh menuntut ilmu termasuk perkara yang bernilai tinggi, derajat yang tinggi itu tidak bisa diraih kecuali dengan kepayahan.

Abu Tammam berkata mengajak jiwanya sendiri:

“Wahai jiwaku, biarkan aku mendapatkan apa yang tidak didapatkan dari derajat yang tinggi. Maka kesulitan meraih ketinggian tersebut adalah dalam kesulitan, dan kemudahannya dalam kemudahan”

Imam Syafi’i berkata dlm syairnya:

“Belajarlah! Karena tak seorangpun dilahirkan berilmu

Dan tidaklah orang berilmu seperti orang yang bodoh

Biarpun pembesar bangsa, tapi tak berilmu, ia kecil, ketika pasukan mengepungnya

Biarpun orang kecil, tapi berilmu
Ia besar, ketik banyak orang merujuk kepadanya.”

Semoga bermanfaat.

Materi Back to Islam ini disampaikan oleh Mr. Agus Suprapto dalam Back to Islam Batch #5, ahad 12 November 2017.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *